INFO LAIN

Memuat...

Minggu, 20 Maret 2011

Budidaya Sayuran di Dataran Rendah

Share

Banyak orang mengira bahwa budidaya tanaman sayur, hanya bisa dilakukan di dataran tinggi saja. Namun ternyata perkiraan itu salah, saat ini sayuran yang biasanya dibudidayakan di dataran tinggi juga bisa dibudidayakan di dataran rendah. Beberapa sayuran seperti sawi, kubis, slada, kembang kol, dan jagung manis sudah banyak dibudidayakan di dataran rendah dengan ketinggian 5 sampai 200 meter dpl.
Hal ini memberikan angin segar bagi para petani yang memiliki lahan di daerah dataran rendah. Mengingat sayur merupakan salah satu kebutuhan pokok yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, sehingga banyak petani yang memanfaatkannya sebagai peluang bisnis yang cukup menguntungkan mereka.
Prospek bisnis budidaya sayur di daerah dataran rendah, memang sangat bagus. Seiring dengan meningkatnya permintaan masyarakat akan sayur, yang semakin hari terus meningkat. Sehingga banyak petani yang beralih untuk membudidayakan sayur, dibandingkan menanam padi atau palawija yang persaingan bisnisnya sudah sangat tinggi.
Kebutuhan sayur datang dari masyarakat, baik untuk konsumsi pribadi maupun untuk pemenuhan bahan baku peluang bisnis yang mereka jalankan. Dari mulai ibu-ibu rumah tangga yang mencari sayur untuk kebutuhan gizi keluarganya, pelaku usaha makanan yang membutuhkan sayur sebagai bahan baku usaha mereka, sampai para pedagang sayur segar di pasar atau supermarket.
Budidaya sayur di dataran rendah membutuhkan perawatan yang sedikit berbeda dengan budidaya sayur di dataran tinggi. Namun secara garis besar, tahapan budidayanya tetap sama. Biasanya untuk budidaya di dataran rendah, media tanam yang digunakan berupa campuran tanah dan kompos yang terbuat dari bakaran sampah organik yang sudah diayak.Tujuan mencampurkan tanah dan sampah organik, agar tanah semakin gembur dan mengandung banyak nutrisi.
Selain bisa dibudidayakan di lahan yang luas, sayur juga bisa ditanam menggunakan polybag. Sehingga bisa memanfaatkan lahan yang tidak terlalu luas. Anda bisa menggunakan polybag yang berukuran 10 cm, kemudian diisi dengan media tanam campuran tanah dan kompos. Lubangi bagian tengah media dengan telunjuk sedalam 1 cm, kemudian masukan bibit ke dalamnya, dan di tutup kembali dengan media. Semprot dengan air, dan lindungi dari sinar matahari secara langsung. 1-3 hari mulai bibit tersebut akan mulai kerkecambah.
Setelah bibit mulai tumbuh besar sekitar 3 minggu, pindahkan bibit ke media yang lebih besar. Bisa menggunakan polybag yang ukurannya lebih besar atau memindahnya di lahan seperti kebun atau sawah. Khusus untuk penanaman sayur di lahan, buatlah bedengan dengan lebar minimal 1 meter, dengan tinggi kira-kira 40 cm, sedangkan panjangnya bisa menyesuaikan luas lahan. Jarak tanam antar sayur idealnya adalah 40 cm. Dan untuk beberapa sayur seperti sawi atau kol, celah antar bedengan bisa dijadikan sebagai parit untuk membantu pengairan tanaman.
Yang terpenting dalam proses pemeliharaan adalah pemenuhan kebutuhan air, pupuk, dan pencegahan hama tanaman yang bisa mengganggu tanaman sayur. Untuk budidaya dengan polybag, sebaiknya jangan disiram terlalu sering. Karena bila terlalu lembab, akan memicu kebusukan akar sayur. Sedangkan untuk budidaya di lahan, pengairan dilakukan sehari sekali sebaiknya di pagi hari. Untuk pemberian pupuk bisa dilakukan setiap 2 minggu sekali, agar kandungan nutrisi tanah tidak berkurang.
Budidaya sayur di dataran rendah ternyata menghasilkan sayur yang kualitasnya lebih baik, sayuran bisa lebih manis, lebih segar, dan kandungan airnya juga tidak terlalu banyak. Disamping itu daya tahan sayur juga lebih lama, sehingga meminimalisir busuknya sayur sebelum dipanen. Sehingga harga jual sayur juga lebih tinggi.
Kendala bisnis sebagian besar petani budidaya sayur adalah kurangnya modal usaha. Sehingga budidaya sayur belum bisa maksimal, dan belum bisa memenuhi semua permintaan konsumen. Karena mereka hanya bisa membudidayakan dengan modal seadanya. Selain itu kendala yang sering dihadapi adalah hama tanaman yang merusak sayur. Untuk itu para petani harus memberikan perawatan yang cukup ekstra, dan menyemprotkan pestisida organik untuk mengusir hama yang merusak tanaman.
Pemasaran hasil budidaya sayur bisa dilakukan dengan adanya kerjasama antara petani dan pedagang sayur yang ada di pasar-pasar. Sehingga hasil budidaya disetorkan langsung kepada para pedagang sayur di berbagai pasar yang ada kota tersebut. Atau bisa juga memasarkannya dengan menjalin hubungan kerja ke beberapa pelaku bisnis makanan, biasanya mereka mencari bahan baku sayur langsung ke petani untuk memperoleh harga yang lebih murah.
Selain itu biasanya ada pengepul yang membeli hasil budidaya sayur untuk didistribusikan ke luar daerah, jadi pemasaran bisnis Anda semakin luas. Bukan hanya di dalam kota saja, namun juga dipasarkan di kota-kota lainnya.Untuk menambah penghasilan, Anda juga bisa  melayani pembelian bibit sayur yang dijual dengan polybag atau pot. Bibit sayur tersebut banyak dibutuhkan para petani sayur lain, atau bisa juga dijadikan sekedar  tanaman hias bagi para ibu rumah tangga.
Kesuksesan bisnis budidaya sayur dipengaruhi oleh pemilihan bibit yang berkualitas, dan  perawatan sayur dari mulai pengairan, pupuk, dan pembasmian hama tanaman sampai perawatan panen dan pasca panen. Sehingga dihasilkan sayur yang kualitasnya baik dan memiliki nilai jual cukup tinggi.
Bagi Anda yang tertarik mencoba peluang bisnis budidaya sayur di dataran rendah, berikut kami berikan sedikit gambaran analisa ekonomi peluang bisnis budidaya sayur kembang kol dengan media polybag. Lahan milik pribadi, dengan luas 200 m2. Dan masa panen kembang kol 2,5 bulan.
Analisa Ekonomi
1. Modal awal
Penyiapan lahan Rp 1.000.000
  • Bibit   @ Rp 30,00 x 10.000 Rp 300.000
  • Polybag dan pot Rp 500.000
  • Peralatan (Pengayak, sekop, alat penyiram) Rp 200.000
Total Rp 2.000.000
2. Biaya operasional per bulan
Bibit @ Rp 30,00 x 40.000 Rp 1.200.000
  • Pupuk kompos Rp 500.000
  • Pestisida organic Rp 1.000.000
  • Polybag  Rp 500.000
  • Pot Rp 4.000.000
  • Tenaga kerja    3 orang x @ Rp 900.000 Rp 2.700.000
Total Rp 9.900.000
3. Omset per bulan
  • Penjualan bibit @ Rp 500,00 x 10.000 bibit Rp  5.000.000
  • Penjualan kembang kol di pot @ Rp 10.000 x 1000 pot  Rp 10.000.000
Total Rp 15.000.000
  • Laba bersih per bulan Rp 15.000.000-Rp 9.900.000 = Rp 5.100.000,00

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar